TOILET STORY

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

TOILET STORY

Post by Sir_Lancelot on Tue Jun 24, 2008 9:29 am

Castro couldn't even go to the bathroom unless the Soviet Union put the nickel in the toilet. (Richard M Nixon)

Ini bukan sepotong roman cinta. Bukan pula kisah tandingan Eiffel I’m in Love yang kondang baik novel maupun filmnya itu. Ini kisah nyata tentang toilet. Tentang sebuah ruangan kecil yang di dalamnya teronggok benda yang kepadanya kita menggantungkan hidup kita. Setiap saat, Pagi, Siang, Sore, Malam, 24 jam.


Kisah ini juga tidak berlatar di Perancis. Negara dengan satu menara keajaiban dunia yang menjulang menembus langit Eropa itu. Ini terjadi di sebuah kantor di Kelapa Gading, daerah langganan banjir di ibukota, tempat aku pernah bekerja beberapa tahun silam. Saat sebagian masyarakat sibuk dan berjubel antri membeli minyak tanah, karyawan di perusahaan ini sibuk antri masuk toilet. Pasti Anda heran. Asal tahu saja, satu dari tiga toilet kantor digembok dengan alasan kurang masuk di akal. Oya, cerita ini tidak dimaksudkan untuk membuka ‘aib’ kantor itu. Toh, seluruh nama dan sebutan disamarkan di sini. Kisah ini juga tidak dimaksudkan untuk menurunkan selera makan para Kokiers di manapun Anda berada. Baik yang makan nasi kucing, kentang, sagu, gudeg, burger, spaghetti, sandwich, pizza, salad, hot dog, bratwurst, corn flakes, kebab, dan sebagainya. Ini adalah kisah toilet. Kisah kehidupan.



“Ini akibat dari ulah kalian!” cetus seorang manager yang nimbrung makan siang kami di foodcourt basement sebuah mal.
“Halah, klasik banget. Kenapa digembok toiletnya?”
“Apa tidak ada cara manajemen yang lebih wise?”
“Toilet itu kotor. Banyak tisu. Pernah ada yang tidak menyiram. Noda sabun di mana-mana.”
“Bukannya memang rusak.”
“Iya, aku lihat Julia naik turun tangga dengan tangan menggenggam pembalut. Sampai di atas, masih harus ngantri. Jengkel, ia turun lagi.”
“Tutup saja semua toilet!”
“Kalo gitu, belikan kami pampers tiap hari!”
“Ini merupakan crime against humanity!”

Begitulah rekaman obrolan penuh seloroh di sela-sela makan siang. Obrolan ini sempat membuat lalu lintas makan jadi seret. Gumpalan daging ayam bakar bercampur sayur asem dan nasi seakan macet mendadak di kerongkongan. T-e-r-s-e-n-d-a-t. Sepertinya satu gelas jus tomat pun tidak sanggup mendorongnya menuju lambung. Bukan jijik dengan toiletnya. Tapi dengan tindakan menggembok ruang tempat kami tiap hari melepas ampas-ampas biologis itu. Dongkol campur gemes. Kantor itu punya empat lantai. Toilet malang itu berada di lantai 4. Kantor ini dihuni oleh sekitar 60 mahkluk berkaki dua dan berjalan tegak yang bernama karyawan. Ketiga toilet di kantor itu dilengkapi dengan si leher angsa dan tombol flush. Toilet malang itu menjadi toilet paling besar. Tapi, entah kenapa toilet ini sepertinya menjadi toilet favorit karyawan. Saat toilet ini resmi ditutup, di dalam batok kepalaku terbayang pita plastik warna kuning milik kepolisian bertuliskan “Do Not Cross!”melingkari ruangan yang mendadak keramat itu. Seperti sebuah tempat kejadian perkara (TKP) di mana di ruangan itu baru saja terjadi pembunuhan sadis. Atau di ruangan itu, seorang pemuda tanggung ditemukan mati overdosis dengan jarum suntik masih menancap di lengan. Atau di ruangan itu, seorang nenek ditemukan tewas gantung diri. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Nah, di lantai 4, tersisa satu toilet kecil seluas 44 ubin persegi. Tepatnya, panjang 11 ubin dan lebar 4 ubin. Super sempit. Di depan leher angsa, ada satu ember dan gayung. Di ruangan mini inilah, kesabaran kami untuk antri diuji. Para Kokiers, tentu tahu bagaimana rasanya kebelet e-ek. Hendra, seorang karib, pernah mengaku menggelepar kesakitan di lantai gara-gara toilet di rumahnya sedang dipakai mandi saudaranya. Padahal, isi perut sudah meronta-ronta dan mencapai titik kulminasi. “Rasanya, ingin tumpah saja,” katanya. Lalu Handi mengakui kenapa ia ngebut dengan sepeda motornya di jalan karena rasa ingin be-ol tak tertahankan. Bahkan, ia sempat tersiksa, saat tekanan itu muncul, ia terjebak macet dan tidak segera menemukan SPBU yang biasa dilengkapi dengan WC umum. Arman malah lebih jujur dengan mengaku pernah be-ol di celana. “Habis, ndak bisa nahan, sih,” katanya. Aku sendiri pernah tersiksa saat berada di kereta kelas bisnis menuju Jogja. Saat itu, masa Lebaran. Ular besi itu dijejali oleh orang-orang urban dan udik yang pulang kampung. Lorong-lorong dan toilet kereta dipenuhi orang-orang itu. Walhasil, aku menahan sakit perut berjam-jam di perut kereta.



Be-ol, menurutku, adalah salah satu hak asasi manusia. Meski be-ol tidak dimasukkan secara tersurat dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 10 Desember 1948. Kegiatan ekskresi ini sudah ada sejak manusia diciptakan di Taman Eden. Bayangkan sendiri jika kita berhari-hari tidak bisa be-ol. Perut kita mual. Badan menciut bersama pucat. Layu. Paras jadi pasi. Langkah kaki pun jadi limbung. Sampah metabolisme itu kalau tidak dibuang justru akan menimbulkan penyakit. Kalau terlalu lama ngendhon di usur besar, mengeluarkannya pun susah. Ekstra tenaga. Bisa-bisa harus ‘cesar’ nih. Tentunya, aktivitas dan produktivitas kita juga akan terganggu. Nah, demi penghormatan HAM, negara, perusahaan, lembaga publik, sekolah, kantor, tempat ibadah, bandara, kereta api, kantor polisi, penjara, dan sebagainya harus menyediakan toilet yang layak pakai. Sok aktivis nih, ye!


Ruang Privat
Semua tentu setuju kalau toilet adalah ruang paling intim bagi kita. Seumum-umumnya WC, kalau kita sudah masuk dan mengunci pintu kamar kecil itu, kita masuk dalam kesendirian. Orang tidak mau diganggu saat di toilet. Orang lain pun tidak mau penciumannya terganggu oleh bau amoniak dari sampah biologis itu. Di sanalah, kita mendapatkan sensasi ekskresi yang very-very personal. Menekuk wajah. Memejamkan mata sejenak. Menyeringai. Lega. Puas. Mata berbinar. Karena itu, panggung ‘konser plung-plung’ ini biasanya dibuat sedemikian privat, rapat, dan terkunci.

“Inilah saat-saat paling intim bagi saya. Kegiatan paling pribadi,” kata Ayu di ruang chatting. Lain lagi dengan Natalia, ibu muda yang sedang mengasuh bayi pertama usia empat bulan. Ia melihat toilet sebagai tempat hang out paling nyaman di rumah. “Toilet adalah tempatku istirahat dari menjaga anakku. Di sana, aku bisa senang hati berlama-lama, tanpa merasa berdosa,” akunya. Maklum juga Natalia melakukan itu. Tahu sendiri, orang yang mempunyai bayi di bawah lima bulan. Tiap malam harus begadang. Bangun. Menyusui. Ganti popok. And so forth. Orang ingin senyaman mungkin saat beraktivitas di toilet. Di sana, orang kontak dengan dirinya sendiri. Dirinya apa adanya. Dari sisi paling baik yang sering ia tunjukkan pada orang lain sampai sisi paling buruk, paling kotor, dan paling jelek yang ia sembunyikan. Toilet bisa menjadi ruang kejujuran. Untuk mendukung kenyamanan, orang bisa berak sambil membaca koran, novel, mendengarkan musik, nonton teve, mengetik di laptop, dan sebagainya. Bahkan, orang bisa bertahan satu jam di toilet untuk menegak kenyamanan. Kini, toilet sudah multifungsi. Di sana, orang tidak hanya buang ampas. Konon, katanya, toilet bisa jadi ruang favorit untuk mencari inspirasi. Seorang kepala internal auditor di sebuah hotel di kawasan Thamrin, Jakarta mengaku ide-ide investigasi briliannya bisa muncul bak bintang jatuh bersamaan dengan jatuhnya ‘bom-bom’ amoniak ke lobang kakus. Bahkan, ada seorang kolega yang berseloroh. Katanya patung The Thinker (le Penseur) karya Auguste Rodin (1840-1917) yang berada di Musee Rodin Paris sebetulnya adalah patung seorang filsuf yang sedang merenung di atas kloset untuk menggelontorkan ide-ide filosofisnya. Wih, ngawur!!!!

Ada-ada saja tingkah orang di toilet. Salah satunya corat-coret. Kreativitas dadakan ini sering kita temui jejaknya di toilet-toilet umum, di terminal bus, stasiun kereta, pasar, pom bensin, dan sebagainya. Dinding toilet penuh dengan grafiti. Lucu-lucu dan unik. Ada yang menorehkan tanda tangan, lengkap dengan tempat, tanggal, sekaligus nama terang. Mungkin ia terobsesi dengan penutup teks proklamasi: Jakarta, 17 Agustus 1945, Soekarno Hatta. Mungkin pula ia terobsesi jadi bupati yang doyan membubuhkan tanda tangan di batu prasasti setiap usai meresmikan gedung pertemuan. Ada lagi yang jatuh cintrong. Misalnya, “Seto-gambar hati-Mumun”.Bisa jadi, ia seorang yang ingin jujur bahwa ia gandrung pada Mumun. Tapi tidak punya nyali untuk mengungkapkannya empat mata. Ada lagi yang melakukan demonstrasi diam-diam di dalam toilet dengan menulis “Fuck U Soeharto!” Mungkin karena takut pantatnya kena peluru karet atau
kepalanya bocor oleh pentungan aparat, mendingan ia mengumpat dan curhat di toilet. Apalagi, tidak ada gunanya lagi teriak-teriak di jalanan nan panas dan berdebu karena tidak ada yang mendengarkan. Lebih baik di toilet sambil ngadem. Ada lagi yang patah hati dengan menulis “Jangan tinggalkan akang, neng!” Dan sebagainya. Dan sebagainya. Sayang sekali, kreativitas ini malah bikin toilet kotor. Jorok. Kumuh. Tidak nyaman.

Sejarah Toilet
Gemes soal toilet mendorongku mencari tahu sejarah toilet. Ya, sambil menyelam minum airlah. Biar hati dongkol, pengetahuan tetap harus bertambah. Kususuri lorong-lorong Google dan kutemukan beberapa data benda ajaib ini. Konon, pada abad ke-25 SM, warga Harappa di India punya toilet di setiap rumah. Masing-masing toilet dihubungkan dengan saluran air dari batu bata. Toilet juga ditemukan pada peradaban Mesir dan Tiongkok kuno. Di Romawi kuno, toilet biasanya menyatu dengan tempat permandian umum. Saat itu, orang-orang tidak merasa malu menggunakan toilet di ruang umum ini. Hmmm, bisa dibayangkan bila bisa bertoilet bersama dengan putri Cleopatra. Baru sekitar tahun 200 SM, warga Roma mulai menyadari pentingnya mempunyai toilet pribadi. Cek,cek, cek, ternyata toilet sudah ada sejak zaman baheula!



Toilet dengan gaya modern ditemukan oleh Sir John Harington tahun 1596. Toilet ini dipopulerkan di Inggris pada zaman Victoria.
Pada tahun 1738, JF Brondel memperkenalkan toilet dengan katup pembilasan (flush). Alexander Cummings memperkenalkan varian yang mampu menghalau bau busuk toilet. Pada tahun 1777, Joseph Preiser membuat toilet lengkap dengan katup dan engkol. Toilet pun terus berevolusi dari generasi ke generasi seperti dalam bentuknya sekarang, dari yang berada di terminal bus sampai di hotel bintang lima.

Reuters pernah memberitakan China dan Inggris bersitegang soal klaim
sejarah toilet paling tua. Para arkeolog China mengklaim bahwa toilet
temuan Inggris masih kalah tua dengan yang ada di Negeri Tirai Bambu
itu. Konon, toilet tertua ditemukan sejak zaman Dinasti Han. Tepatnya,
di makam seorang raja pada masa dinasti itu. Toilet ditemukan di
Shangqiu di provinsi Henan. Bagiku sih, tidak penting siapa yang menciptakan toilet. Yang penting ada servis toilet yang bersih dan layak bagi siapa saja. Kisah ini aku tutup dengan ungkapan seorang teman atas tulisan ini. “Kesejahteraan dan kemakmuran kadang tidak diukur dari seberapa kinclong mobil, apartemen, atau gandengan seseorang. Tapi, cukup sejengkal tanah berlobang untuk buang hajat,” katanya.


Maaf, saya mau ke toilet dulu! Hasta la vista! (^_^)v shit shit

Sir_Lancelot
Talker
Talker

Female
Jumlah posting : 87
Age : 30
Location : dikamar,,tngan kiri dikeyboard,tngan kanan pgang mouse,,duduk bersila kaki kiri diangkat
Registration date : 11.06.08

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik